Metro24Sidoarjo –Seorang warga Kabupaten Sampang, Madura, bernama Naiman, diduga menjadi korban tindak pidana pemerasan disertai pengeroyokan oleh sekelompok orang yang diduga melakukan aksi premanisme di kawasan Jalan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Rabu, (15/4/2026).
Peristiwa tersebut terjadi saat korban tengah mengawal ambulans dalam misi kemanusiaan menjemput jenazah dari Bandara Internasional Juanda.
Insiden bermula ketika Naiman bersama rombongan berangkat dari Sampang menuju Surabaya untuk menjemput jenazah. Namun, di tengah perjalanan tepatnya di Jalan Sedati, rombongan tiba-tiba dihentikan oleh sekelompok orang tak dikenal.
Tanpa dasar kewenangan yang jelas, para pelaku diduga melakukan penghentian secara paksa. Situasi kemudian memanas ketika mereka melontarkan kata-kata tidak senonoh, disertai tindakan kekerasan berupa pengeroyokan terhadap korban.
Dalam kondisi tertekan, Naiman diduga dipaksa menyerahkan sejumlah uang sebesar Rp3 juta. Para pelaku bahkan disebut mengancam dan melakukan pemukulan apabila permintaan tersebut tidak dipenuhi.
Peristiwa ini dinilai sangat ironis, mengingat korban saat itu sedang menjalankan tugas kemanusiaan dengan mengawal ambulans untuk menjemput jenazah agar bisa segera dibawa pulang ke kampung halaman.
Tidak terima atas kejadian tersebut, korban telah melaporkan insiden yang dialaminya ke Polda Jawa Timur guna mendapatkan perlindungan hukum serta keadilan.
Menanggapi kasus ini, tim dari MADAS Sedarah langsung turun tangan memberikan pendampingan kepada korban. Organisasi tersebut menegaskan komitmennya untuk mengawal proses hukum hingga tuntas.
“Kami mengecam keras segala bentuk tindakan premanisme yang meresahkan masyarakat, terlebih dalam situasi duka seperti ini. Ini bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga melukai nilai kemanusiaan,” tegas Aziz MADAS Sedarah, Jum’at, (17/4/2026).
MADAS Sedarah juga mendesak aparat penegak hukum, khususnya Polda Jawa Timur, untuk segera mengungkap dan menangkap seluruh pelaku serta memprosesnya sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Selain itu, MADAS Sedarah mengimbau masyarakat untuk turut menjaga kondusivitas wilayah Jawa Timur dan tidak memberikan ruang bagi praktik-praktik premanisme yang merugikan.
Kasus ini menjadi perhatian serius karena menunjukkan bahwa praktik premanisme masih terjadi dan dapat menimpa siapa saja, bahkan dalam situasi kemanusiaan seperti pengawalan jenazah.
Sementara itu, Kapolsek Sedati Sidoarjo Iptu Masyita Dian Sugianto SH,MH, saat di konfirmasi oleh media , mengatakan, terkait adanya tindakan anarkis yang dilakukan oleh sekelompok Premanisme, pihaknya belum menerima laporan atas peristiwa tersebut.
“Gak ada laporan di kami mas.. langsung ke polda ya itu. Saya baru dengar juga di sedati sebelah mana?,” tutur Kapolsek.
Publik pun berharap aparat penegak hukum dapat bertindak cepat dan tegas demi menjamin rasa aman di tengah masyarakat.
(Redho)
This post was published on 19/04/2026 8:27 am
Metro24, SURABAYA - Pendaftaran Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMA/SMK Negeri Jawa Timur tahun 2026 dibuka secara transparan dimulai dengan…
Metro24, JAKARTA, 7 Juni 2026 - DPP LPKAN INDONESIA mengapresiasi dan mendukung penuh langkah Komisi Pemberantasan Korupsi KPK yang menetapkan…
Metro24, SURABAYA - Pesilat ASAD cilik Rungkut Kidul menggelar latihan bersama yang diikuti remaja dan usia PAUD pada Minggu pagi…
Metro24, PASURUAN – Semangat kemanusiaan yang ditunjukkan Gerakan Masyarakat Peduli Kemanusiaan (GMPK) Pasuruan Raya patut mendapat apresiasi. Meski tanpa dukungan…
Metro24, Gresik, 6 Juni 2026 — Pengurus Harian DPD LDII Kabupaten Gresik melakukan silaturahim dengan jajaran Majelis Ulama Indonesia (MUI)…
Metro24, SIDOARJO -Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak melalui sekolah berbasis Islam, muncul sebuah pertanyaan…