Konflik Berdarah Di lahan Kawasan Hutan Desa Sungai Akar Berujung Maut.Hendrik Marbun, Berang”

Metro24.co.id – INHU – Pasca terjadinya konflik di areal Desa Sungai Akar beberapa Minggu lalu membuat warga “berang” konflik itu membawa dampak miris bagi warga sekitar. Warga risau serangan susulan takut kembali terjadi. (Senin 15 Desember 2025)

 

Sebanyak enam orang warga korban penganiayaan dilahan seluas 1261 Hektar, menjadi amukan pengusaha perkebunan sawit. perbincangan hangat muncul terjadinya konflik berdarah diareal kebun sawit Desa Sungai Akar kini masuk dalam proses hukum.

 

Konflik berdarah di perkebunan sawit terjadi karena sengketa lahan antara warga dan perusahaan, dipicu pemanenan tanpa izin, atau protes petani yang tanahnya digusur, mengakibatkan bentrokan fisik, luka-luka, hingga korban jiwa. Sulit diatasi. Hendrik Marbun, siap berhadapan dengan hukum menuntut keadilan terhadap enam orang korban warga desa sungai Akar.

 

Ketua DPC FSPTI-KSPSI Inhu Hendrik Marbun, kepada Metro24.co.id, mengatakan kehadiran PT. Tiga Raja Mas dalam pengelolaan kebun kelapa sawit melalui skema Kerja Sama Operasional (KSO) dengan PT Agrinas Palma Nusantara (PT APN) membawa preseden buruk warga Desa Sungai Akar.

 

Hingga berita ini dimuat HM. Ali komisaris Utama PT. Tiga Raja Mas, salah satu pihak pengelola perkebunan sawit eks PT.IP saat di temui awak media tidak berada di tempat. pihak pengelola perkebunan sawit 1261 Hektar, tampaknya akan berurusan oleh hukum”

 

Pelaku korban penganiayaan di Desa Sungai Akar, menurut dugaan Hendrik, adalah orang suruhan PT.Tiga Raja Mas. Warga menjadi “Berang” selain penganiayaan pelaku juga merusak fasilitas milik warga diantaranya dengan cara brutal.

(Holmes Pane, S.H)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *