News  

Pola Risiko Kanker Global Berubah, Ini Temuan Terbarunya

Metro24 – Perbedaan pola risiko kanker antarwilayah dunia kembali ditegaskan lewat riset internasional yang dipublikasikan di jurnal Nature Medicine.

Studi ini menunjukkan bahwa faktor pemicu kanker tidak bersifat seragam dan sangat dipengaruhi kondisi geografis, ekonomi, serta kesehatan masyarakat di masing-masing negara.

Di wilayah berpenghasilan tinggi seperti Eropa dan Amerika Utara, rokok menjadi penyebab utama kanker pada laki-laki dan perempuan.

Sebaliknya, di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Selatan, faktor infeksi muncul sebagai pemicu terbesar kedua setelah merokok.

Jika dilihat dari sisi gender, dampaknya juga berbeda.

Pada pria, merokok menjadi faktor dominan yang memicu hampir 25 persen kasus kanker yang sebenarnya bisa dihindari.

Sementara pada wanita, infeksi menjadi ancaman besar, terutama Human Papillomavirus (HPV) di wilayah berpenghasilan rendah seperti Afrika Sub-Sahara, di mana kanker serviks masih sangat tinggi.

Mengutip laman polri, penelitian ini menyebut sekitar 38 persen kasus kanker baru secara global berasal dari faktor risiko yang bisa dimodifikasi, seperti merokok, infeksi, dan konsumsi alkohol.

Data yang dirilis pada Jumat (6/2/2026) menunjukkan, dari 18,7 juta kasus kanker baru dunia pada 2022, sebanyak 7,1 juta kasus berkaitan langsung dengan penyebab yang dapat dikendalikan. Kanker lambung, paru-paru, dan serviks tercatat sebagai jenis kanker terbanyak yang masuk kategori dapat dicegah, dengan kontribusi hampir separuh dari total kasus tersebut.

Dalam studi yang mencakup 36 jenis kanker di 185 negara, merokok menempati posisi teratas sebagai faktor risiko terbesar dengan kontribusi 15 persen. Faktor infeksi menyusul dengan 10 persen, sementara alkohol menyumbang sekitar 3 persen.

Para peneliti menegaskan, temuan ini menegaskan bahwa pencegahan kanker tidak cukup dilakukan dengan pendekatan global yang seragam. Setiap negara perlu memiliki strategi spesifik berbasis risiko dominan di wilayahnya.

Pemerintah dan lembaga kesehatan didorong untuk menyusun kebijakan pencegahan yang lebih terarah, agar upaya menekan angka kanker dapat berjalan lebih efektif dan memberi dampak nyata di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *