Metro24, Tanggal 20 Mei selalu menghadirkan ruang refleksi bagi bangsa Indonesia. Hari itu bukan sekadar penanda kalender nasional, melainkan simbol lahirnya kesadaran kolektif rakyat Indonesia untuk bangkit sebagai sebuah bangsa yang merdeka dan bermartabat.
Sejarah mencatat, Kebangkitan Nasional bermula dari lahirnya Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Organisasi modern pertama di Indonesia tersebut didirikan oleh para pelajar School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Batavia, dipelopori oleh gagasan Dr. Wahidin Soedirohusodo dan dipimpin oleh Dr. Soetomo bersama para pelajar bumiputra lainnya.
Pada masa itu, rakyat Nusantara hidup dalam tekanan kolonialisme Belanda. Politik adu domba, kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, serta ketimpangan sosial menjadi wajah sehari-hari masyarakat pribumi. Namun dari ruang-ruang pendidikan itulah lahir kesadaran baru bahwa perjuangan melawan penjajahan tidak cukup dilakukan secara kedaerahan, melainkan harus dibangun atas dasar persatuan sebagai bangsa Indonesia.
Budi Utomo kemudian menjadi pemantik lahirnya organisasi-organisasi pergerakan lain seperti Sarekat Islam, Indische Partij, hingga Perhimpunan Indonesia yang pada akhirnya melahirkan semangat Sumpah Pemuda 1928 dan mengantarkan Indonesia menuju Proklamasi Kemerdekaan 1945.
Kebangkitan nasional pada hakikatnya bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi perubahan cara berpikir bangsa, dari rakyat terjajah menjadi bangsa yang sadar akan harga diri, persatuan, dan masa depannya sendiri.
Kini, lebih dari satu abad kemudian, Indonesia menghadapi bentuk tantangan yang berbeda. Penjajahan fisik memang telah berakhir, tetapi tantangan baru muncul dalam bentuk disrupsi digital, polarisasi sosial, krisis moral, hingga ketimpangan ekonomi global. Di tengah derasnya arus teknologi dan media sosial, makna kebangkitan nasional perlu dimaknai ulang sesuai konteks zaman.
Generasi Z menjadi aktor utama dalam babak baru sejarah Indonesia. Mereka adalah generasi yang lahir di tengah internet, kecerdasan buatan, dan budaya digital yang serba cepat. Informasi bergerak dalam hitungan detik, opini mudah dibentuk, dan konflik sosial dapat dipicu hanya melalui layar telepon genggam.
Ironisnya, kemajuan teknologi tidak selalu diiringi dengan kematangan literasi dan karakter kebangsaan. Ruang digital hari ini sering dipenuhi ujaran kebencian, hoaks, fitnah, serta pertikaian politik yang mengikis persatuan nasional. Nasionalisme perlahan berubah menjadi sekadar simbol seremonial, bukan nilai yang hidup dalam perilaku sehari-hari.
Karena itu, Kebangkitan Nasional di era digital tidak lagi cukup dimaknai sebagai perjuangan mengangkat senjata atau melawan kolonialisme asing. Kebangkitan masa kini adalah kemampuan bangsa menjaga persatuan di tengah perbedaan, menjaga akal sehat di tengah banjir informasi, serta membangun kemandirian ekonomi dan pangan di tengah tekanan global.
Dalam konteks itulah, sejumlah program pemerintahan Prabowo Subianto dapat dibaca sebagai bagian dari upaya membangun fondasi kebangkitan nasional dari akar rumput.
Program pembangunan 80 ribu Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), misalnya, merupakan langkah strategis untuk menghidupkan kembali semangat ekonomi kerakyatan berbasis gotong royong. Desa tidak lagi boleh dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan pusat kekuatan ekonomi nasional.
Koperasi sejak dahulu merupakan cita-cita ekonomi bangsa yang diperjuangkan untuk melawan praktik monopoli dan ketimpangan sosial. Di tengah dominasi kapitalisme global dan pasar digital yang semakin kompetitif, koperasi desa dapat menjadi instrumen penting untuk melindungi petani, nelayan, pelaku UMKM, dan masyarakat kecil agar tidak terpinggirkan.
Namun tantangan terbesar bukan sekadar membangun koperasi dalam jumlah besar, melainkan memastikan tata kelola yang bersih, profesional, dan bebas dari praktik korupsi maupun kepentingan politik sesaat. Sebab sejarah bangsa ini juga mengajarkan bahwa banyak program besar gagal bukan karena konsepnya buruk, tetapi karena lemahnya integritas pengelolaan.
Di sektor sumber daya manusia, program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi pelajar juga patut dipandang sebagai investasi strategis negara. Bangsa yang besar tidak lahir hanya dari pembangunan infrastruktur, tetapi dari kualitas manusianya. Anak-anak yang sehat, cerdas, dan terdidik adalah fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045.
Di banyak daerah, masih terdapat anak-anak yang pergi ke sekolah dalam kondisi lapar dan kekurangan gizi. Situasi itu tentu memengaruhi kualitas belajar dan masa depan mereka. Dalam perspektif kebangsaan, program MBG bukan sekadar bantuan sosial, melainkan upaya negara membangun generasi yang siap bersaing di masa depan.
Demikian pula program ketahanan pangan yang saat ini digalakkan pemerintah bersama Kepolisian Negara Republik Indonesia. Dunia sedang menghadapi ancaman krisis pangan global akibat konflik geopolitik, perubahan iklim, dan ketidakpastian ekonomi internasional. Negara-negara yang tidak memiliki ketahanan pangan yang kuat akan sangat rentan menghadapi gejolak sosial dan ekonomi.
Dalam situasi tersebut, ketahanan pangan bukan lagi isu sektoral pertanian semata, melainkan bagian dari pertahanan negara. Ketika pangan tersedia dan harga stabil, masyarakat akan lebih tenang, ekonomi bergerak, dan stabilitas nasional dapat terjaga.
Meski demikian, kebangkitan nasional tidak boleh hanya bergantung pada negara. Sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar selalu lahir dari kesadaran rakyatnya sendiri. Pemerintah dapat membuat program, tetapi keberhasilan bangsa tetap bergantung pada kualitas moral, persatuan, dan partisipasi masyarakat.
Generasi muda Indonesia hari ini memiliki peluang yang jauh lebih besar dibanding generasi pendahulu. Teknologi membuka akses pendidikan, ekonomi, dan informasi secara luas. Namun peluang itu akan sia-sia apabila generasi muda kehilangan karakter, integritas, dan rasa cinta tanah air.
Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi momentum untuk bertanya secara jujur: apakah bangsa ini benar-benar sedang bangkit, atau justru sibuk terpecah oleh kepentingan sempit dan pertikaian di ruang digital?
Kebangkitan nasional sejati bukan hanya tentang pertumbuhan ekonomi atau kemajuan teknologi, melainkan tentang lahirnya masyarakat yang adil, beradab, dan memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat.
Dahulu para tokoh pergerakan bangkit melalui pendidikan dan organisasi. Hari ini, generasi muda Indonesia harus bangkit melalui literasi digital, integritas, inovasi, dan kepedulian sosial. Sebab masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang berkuasa, tetapi oleh sejauh mana rakyatnya mampu menjaga persatuan dan cita-cita kebangsaan.
Lebih dari satu abad setelah lahirnya Budi Utomo, perjuangan itu ternyata belum selesai. Bentuk tantangannya saja yang berubah.
*Penulis adalah Pengamat Hukum dan Advokat pada Firma Hammurabi & Partners










