Semarang. Metro24 – Akses pendidikan tinggi bagi santri di Jawa Tengah makin terbuka lebar.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah resmi meluncurkan Program Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren Tahun 2026 yang memungkinkan santri melanjutkan studi, baik di dalam negeri maupun ke berbagai negara tujuan luar negeri, dari kawasan Timur Tengah hingga Asia Timur.
Program ini berada di bawah pengelolaan Lembaga Fasilitasi dan Sinergis Pesantren (LFSP) Jawa Tengah, lembaga yang dibentuk berdasarkan keputusan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.
Ketua LFSP Jawa Tengah, Profesor Dr KH Hasyim Muhammad, menyampaikan bahwa beasiswa ini menjadi bagian dari agenda strategis Pemprov Jateng dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi komunitas pesantren.
“Program ini hadir dalam bentuk bentuk pemerintah provinsi bagi pesantren. Santri tidak hanya didorong kuliah di dalam negeri, tetapi juga diberi kesempatan menempuh pendidikan tinggi di luar negeri,” kata Hasyim saat rilis Petunjuk Teknis (Juknis) Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren di Kantor Gubernur Jateng, Semarang, Rabu (4/2/2026).
Skema beasiswa yang disiapkan mencakup berbagai jenjang dan bidang studi. Untuk pendidikan dalam negeri, tersedia beasiswa santri vokasi dan Strata 1 (S1) di bidang kedokteran, pertanian, sains, teknologi, teknik, matematika, serta keislaman.
Program ini berlaku di perguruan tinggi negeri dan swasta di Jawa Tengah yang telah menjalin kerja sama resmi dengan Pemprov Jateng.
LFSP juga membuka akses studi luar negeri untuk santri vokasi dan S1 di bidang kedokteran, pertanian, sains, teknologi, teknik, dan matematika. Negara tujuan meliputi Turki, India, Jepang, Korea Selatan, Cina, Taiwan, Malaysia, Thailand, Filipina, serta negara lain yang dinilai memenuhi kriteria LFSP.
Selain itu, tersedia pula program S1 luar negeri dengan skema double degree, dengan bidang studi dan negara tujuan yang sama.
Untuk bidang keislaman, santri mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan ke sejumlah kampus luar negeri, seperti Universitas Al Azhar Mesir, Universitas Al Ahqof, serta Universitas Imam Syafi’i Yaman.
Sementara bagi pengasuh pesantren, pemerintah membuka beasiswa program S2 dan S3 dalam negeri di bidang keislaman, humaniora, kedokteran, sains, dan teknologi, pada perguruan tinggi yang telah bekerja sama dengan Pemprov Jateng.
Program ini juga dibarengi dengan kewajiban pengabdian. Setiap penerima beasiswa diwajibkan kembali ke pesantren asal setelah menyelesaikan studi, dengan masa pengabdian minimal satu tahun.
“Ini menjadi bagian dari latihan pemberdayaan masyarakat.Ilmu yang diperoleh harus kembali ke pesantren dan masyarakat,” ujar Hasyim.
Dari sisi pembiayaan, pemerintah menanggung berbagai kebutuhan pendidikan, mulai dari UKT, biaya hidup, visa, tiket pesawat, hingga asuransi.
Seluruh komponen disesuaikan dengan standar maksimal masing-masing program studi. Untuk S1 dalam negeri, UKT diberikan hingga delapan semester, dengan batas tertinggi Rp 15 juta per semester untuk program kedokteran.
Proses seleksi dilakukan secara berlapis, mulai dari verifikasi administrasi, seleksi akademik, hingga wawancara. Kemampuan membaca kitab kuning menjadi syarat utama, dengan nilai tambah bagi santri yang memiliki hafalan Al-Qur’an. Penilaian juga mencakup wawasan kebangsaan dan kepesantrenan.
Pendaftaran beasiswa dibuka mulai 18 Februari 2026. Seluruh proses dilakukan secara daring, sementara jadwal seleksi dan pengumuman menyesuaikan jenis program. Hasil seleksi diumumkan melalui laman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Koordinator Bidang Beasiswa dan Pelatihan LFSP Jawa Tengah, Profesor Akhmad Syakir Kurnia, menegaskan bahwa program ini dijalankan dengan prinsip akuntabilitas dan tanggung jawab di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen.
Setiap penerima beasiswa wajib menyampaikan laporan perkembangan studi setiap semester, serta laporan akhir setelah lulus. Kewajiban mengabdi di pesantren asal juga menjadi bagian dari komitmen penerima beasiswa.
Menurutnya, tujuan program ini bukan hanya mencetak lulusan unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter.
“Bayangkan lahirnya dokter, insinyur, atau ilmuwan lulusan luar negeri, yang juga memiliki watak santri yang santun. Ini yang ingin dibangun Jawa Tengah,” ujarnya.












