Bandung. Metro24 – Kota Bandung berduka atas meninggalnya seorang siswa SMA Negeri 5 Bandung di kawasan Jalan Cihampelas.
Pemerintah Kota Bandung meminta penyelidikan dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan duka mendalam atas peristiwa yang terjadi pada 14 Maret 2026 itu. Ia meminta aparat berwenang mengusut kasus tersebut hingga tuntas.
“Saya sangat prihatin dan sangat berduka atas wafatnya anak kita ini. Dugaan sementara karena kecelakaan, tetapi tentu harus dipastikan melalui penyelidikan yang tuntas sehingga kita mengetahui penyebab sebenarnya dan siapa yang bertanggung jawab,” ujar Farhan.
Farhan juga menyampaikan empati kepada keluarga korban. Ia menilai kehilangan anak di usia remaja merupakan duka yang sangat berat bagi orang tua.
“Sebagai seorang ayah, kehilangan putra di usia 16 tahun adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Saya ikut merasakan kehilangan yang luar biasa yang dirasakan orang tua korban,” ujar Farhan.
Di sisi lain, Pemkot Bandung menyiapkan langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang. Salah satunya dengan memperketat pembinaan serta pengawasan aktivitas pelajar di luar jam sekolah.
Farhan mengatakan pihaknya akan bekerja sama dengan Kepolisian Resor Kota Besar Bandung untuk memantau aktivitas kelompok pelajar yang sering berkumpul di sejumlah lokasi sekitar sekolah.
Menurut informasi awal yang diterima pemerintah kota, terdapat beberapa kelompok pelajar yang kerap berkumpul di warung sekitar sekolah dan menamakan diri sebagai kelompok tongkrongan terttntu.
“Dari informasi yang kami dapatkan, ada beberapa kelompok anak-anak SMA yang berkumpul di warung-warung dekat sekolah. Ini sedang kami identifikasi dan akan menjadi perhatian untuk dilakukan pembinaan,” ujar Farhan.
Pengawasan, kata Farhan, tidak hanya bisa dilakukan pemerintah dan kepolisian. Pihak sekolah juga memiliki peran penting dalam memantau perilaku siswa.
Karena itu, Pemkot Bandung mengajak para kepala sekolah memperkuat komunikasi dan berbagi informasi terkait dinamika pergaulan pelajar.
“Tanpa informasi dari kepala sekolah, pemerintah kota dan kepolisian tidak bisa melakukan pencegahan secara maksimal,” ujar Farhan.
Selain itu, patroli bersama aparat keamanan juga akan digencarkan di sejumlah titik yang sering menjadi lokasi berkumpul remaja.
Farhan menyinggung pengalaman patroli sebelumnya yang menemukan pelajar tingkat SMP hingga SMA berkumpul sampai larut malam. Dalam beberapa kasus, mereka juga diketahui mengonsumsi minuman beralkohol dan obat keras.
Pemkot Bandung menilai kondisi tersebut perlu penanganan serius agar tidak berkembang menjadi masalah sosial di kalangan pelajar. Pembinaan yang lebih intens diharapkan dapat mencegah pergaulan berisiko serta menjaga lingkungan pendidikan tetap aman bagi para siswa di Kota Bandung.












